Seorang Asisten Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang bertugas di Istana Negara berlatarbelakang anggota TNI Angkatan Laut. Namun, belakangan diketahui ia tidak bisa berenang.
Ia sering digoda dan diusili oleh para ajudan Presiden. Ada saja keusilan yang membuatnya kebat-kebit dag-dug-dug di hadapan Gus Dur.
Nah tiba saat ‘ngerjain’. “Lapor Pak Presiden…, ini lho ajudan bapak, masak TNI Angkatan Laut kok nggak bisa BERENANG."
Otomatis saja, ajudan TNI AL tersebut langsung tegang, melotot, tak menyangka bila ada yang bertindak nekat lapor hal-hal sensitif
Presiden Gus Dur pun merespon dengan nada datar-datar saja. Gus Dur menjawab, "Lha itu, ada dari Angkatan Udara juga nggak bisa TERBANG ..
GUS DUR
Kyai Haji Abdurrahman Wahid atau yang akrab dipanggil Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur pada tanggal 7 September 1940. Ia lahir dengan nama Abdurrahman Adakhil yang berarti sang penakluk. Karena kata “Adakhil” tidak cukup dikenal, maka diganti dengan nama “Wahid” yang kemudian lebih dikenal dengan Gus Dur. Gus adalah panggilan kehormatan khas Pesantren kepada seorang anak kiai yang berarti “abang atau mas”.
Rabu, 21 Januari 2015
Senin, 16 Desember 2013
Mengenang Humor Gus Dur
Peringatan hari wafat seseorang pada umumnya dilakukan kegiatan untuk mengenang almarhum selama hidupnya. Sering kali, peringatan atau haul itu digelar acara pengajian.
Namun, berbeda dengan gaya Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD. Dalam haul ke-2 Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Mahfud ingin peringatan tersebut diisi bukan oleh pengajian saja, melainkan dengan menggelar humor-humor Gus Dur.
Haul itu digelar di kediaman dinas Ketua MK di Kompleks Widya Candra, Senin (2/1) malam. Mahfud menyatakan, sudah ribuan haul Gus Dur dilakukan dengan cara menggelar pengajian. "Peringatan tahlilan Gus Dur sudah banyak, peringatan khusus menggelar humor-humor yang belum," kata Mahfud.
Hadir dalam acara itu Ketua PBNU Said Aqil Siradj, mantan ketua PBNU Hasyim Muzadi, mantan ketua umum Partai Golkar Akbar Tanjung, Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifudin, mantan menteri perdagangan Luhut Panjaitan, serta para politisi, dan pejabat negara era Presiden Gus Dur.
Menurut Mahfud, peringatan haul digelar untuk mengenang sosok kepemimpinan Gus Dur yang identik dengan humor. Pasalnya dalam humor, Gus Dur, kata dia, banyak mengandung hikmah dan pesan mendalam guna mengingatkan seseorang untuk menyadari kesalahannya.
Mahfud mengaku, Gus Dur sering bertindak untuk menasihatinya saat menjabat menteri pertahanan agar teguh pendirian dan cepat mengambil keputusan. Pasalnya, kata dia, kalau lambat mengambil keputusan risikonya juga muncul dan besar. "Jadi, Gus Dur menyarankan agar cepat mengambil keputusan. Inilah pesan-pesan Gus Dur yang harus dikenang," kata Mahfud.
Gus Dur pernah bercerita, kata dia, dulu waktu Pak Harto jadi presiden dia punya ajudan. Ajudan yang satu tentara, ajudan yang satu ustaz. Kemudian keduanya memberi nasihat yang berbeda. Ajudan tentara memberi nasihat sesuai diktum tentara, kalau bapak melangkah harus dimulai dari kaki kiri. Tapi yang ustaz, menurut sunah nabi, setiap tindakan lebih bagus dimulai dari kanan.
Suatu saat pak Harto mau pergi kerja, saat mau naik mobil ditahan ajudan yang tentara. Pak, mohon naik dari kaki kiri. Yang ustaz bilang sesuai sunah nabi dari harus naik kaki kanan. Pak Harto bingung. Lalu, datang Ibu Tien, ini apa-apaan kalian. Ayo naik dari kaki mana saja. "Itu menyampaikannya humor. Maksudnya Gus Dur, semua pemimpin itu tidak boleh ragu dalam ambil keputusan."
Tokoh Muhammadiyah yang dekat dengan Gus Dur, Muslim Abdurrahman, mengatakan, kalau Gus Dur punya ribuan kisah humor yang tidak ada habisnya. Dia punya kelakar hasil candaan cucu pendiri NU, KH Hasyim Asyari, tersebut tentang hubungan Muhammadiyah dengan NU. Menurut Gus Dur, kata Muslim, kalau jamaah NU shalat Jumat di masjid Muhammadiyah hanya kehilangan pahala saja karena berbeda cara melakukan ritual shalat. Namun, kalau jamaah Muhammadiyah shalat Jumat di masjid NU, lanjut dia, maka pasti kehilangan sandal. "Gus Dur punya banyak humor," katanya.
Hasyim Muzadi bercerita kalau Gus Dur pernah cerita tentang perjalanan naik pesawat dan turun di Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang. Dalam kedatangannya, dia mendapat pengawalan ketat dan disambut secara meriah oleh banyak anggota Banser yang memegang handy talky untuk mengamankan kedatangannya. Sayangnya, tambah Hasyim, sang Banser saat menghubungi rekan lainnya malah menyatakan, "Kontek. Kontek. Abdul Rachman Saleh telah mendarat di Bandara Abdurrahman Wahid."
Said Aqil Siradj mengaku, guyonan Gus Dur penuh dengan nasihat agama. Gus Dur bertutur, kata Said, pernah ada orang yang bekerja sebagai pemecah batu putus asa saat berusaha memecahkan batu besar. Pada saat alat pemecah batu sudah 100 kali mengenai batu, sang pemecah batu menyerah.
Tidak berapa lama kemudian, sang kiai mengambil alih dan hanya dalam lima kali alat pemecah batu bertumbukan dengan batu, maka batu besar itu pecah. Sontak, pekerja itu memuji kehebatan kiai dan menilainya seorang sakti mandraguna. Namun, kiai itu menjelaskan kalau itu bukan karena kehebatannya, "Melainkan kamu (pemecah batu) tidak sabar untuk meneruskan pekerjaanmu yang kurang sedikit lagi membuahkan hasil. Jadi, ini bukan soal saya sakti," papar Said menirukan kisah tersebut.
Sumber: www.republika.co.id| Selasa, 03 Januari 2012 pukul 14:02:00
'Gus Dur' Geser Jalan Merdeka
Pemkab Jombang tahun ini akan mengganti nama Jalan Merdeka menjadi Jalan KH Abdurrahman Wahid.
Hal ini menyusul disetujuinya usulan eksekutif ke DPRD setempat. Penggantian nama itu sekaligus sebagai kado peringatan 1000 hari atau 3 tahun meninggalnya mantan Presiden RI tersebut.
Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Pemkab Jombang, Agus Usman Panuwun membenarkan rencana itu. Bahkan ia sudah mengajukan anggaran sebesar Rp90 juta lewat PAK (Perubahan Anggaran Keuangan) untuk peresmian jalan sepanjang 1,5 kilometer itu."Alhamdulillah, usulan yang kita ajukan ke DPRD Jombang mendapat persetujuan. Peresmian itu akan kita lakukan setelah lebaran. Ini sekaligus sebagai peringatan 1000 hari Gus Dur," kata Agus menjelaskan, Jumat (22/6/2012).
Ketua komisi D DPRD Jombang, Hanafi mengatakan, pihaknya menyetujui rencana yang diusulan oleh pihak eksekutif. Ia juga mengatakan bahwa penggantian nama jalan tersebut menelan anggaran sebesar Rp90 juta.
"Memang benar. Eksekutif sudah mengusulkan perubahan nama Jalan Merdeka menjadi Jalan KH Abdurrahman Wahid. Kita sudah menyetujui," kata politisi asal Partai Demokrat ini.Seperti diketahui, sejak meninggalnya Gus Dur pada 2009 lalu, pemerintah kabupaten Jombang telah merencanakan nama cucu pendiri NU, KH Hasyim Asyari menjadi nama salah satu jalan di Jombang.
Rencana perubahan itu disampaikan Bupati Suyanto.Dengan begitu, Jalan Gus Dur sepanjang 1,5 meter itu akan menyambung dengan Jalan KH Wahid Hasyim ayah kandungnya yang terlebih dulu menjadi nama jalan di pusat kota Jombang hingga stasiun kereta api.
Sumber: okezone.com
EURO 2012: GUS DUR ternyata punya sekoper koleksi artikel sepak bola
Presiden keempat Indonesia,
Abdurrahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur yang wafat pada 30 Desember 2009,
dikenal sebagai penggemar fanatik sepakbola.
Menurut anak pertamanya, Alissa Qotrunnada, mendiang bahkan memiliki satu koper berisi guntingan artikel-artikel tentang sepakbola dari koran atau kliping.
"Kliping bapak banyak banget. Bapak punya satu koper isinya guntingan artikel-artikel tentang bola dari koran," kata Alissa saat menemani ibunya, Sinta Nuriyah, menghadiri pekan #BedaIsMe di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, semalam.
"Tetapi kopernya sudah tidak tahu kemana, mungkin kita harus cari-cari lagi," tambahnya.
Alissa mengatakan ayahnya memang penggemar fanatik bola namun Gus Dur tidak pernah memfanatiki satu tim atau negara, melainkan gemar menganalisis permainan suatu tim.
"Bapak bukan fanatik suatu tim, dia suka sekali analisis. Jadi sukanya analisis misal melihat tim ini karena pelatihnya ini maka bisa melakukan strategi ini," ujar Alissa.
Namun, karena gangguan penglihatan yang dideritanya sejak tahun 1994, lanjut Alissa, Gus Dur hanya bisa menonton bola dengan mendengar ucapan komentator. Sejak itulah, Alissa yang awalnya penggemar berat sepak bola menjadi enggan menonton sepakbola lagi termasuk Piala Eropa 2012.
"Sejak penglihatan bapak sangat berkurang tahun 1994 sampai benar-benar berat tahun 1997, kalau lagi nonton sepak bola saya selalu kepikiran bagaimana rasanya bapak ya sudah tidak bisa nonton bola lagi," kata Alissa yang sejak remaja sudah diajaro teknis dan analisis sepak bola oleh Gus Dur.
Ia menambahkan, "akhirnya sekarang saya benar-benar tidak bisa nonton bola. Pasti inget bapak."
Menurut anak pertamanya, Alissa Qotrunnada, mendiang bahkan memiliki satu koper berisi guntingan artikel-artikel tentang sepakbola dari koran atau kliping.
"Kliping bapak banyak banget. Bapak punya satu koper isinya guntingan artikel-artikel tentang bola dari koran," kata Alissa saat menemani ibunya, Sinta Nuriyah, menghadiri pekan #BedaIsMe di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, semalam.
"Tetapi kopernya sudah tidak tahu kemana, mungkin kita harus cari-cari lagi," tambahnya.
Alissa mengatakan ayahnya memang penggemar fanatik bola namun Gus Dur tidak pernah memfanatiki satu tim atau negara, melainkan gemar menganalisis permainan suatu tim.
"Bapak bukan fanatik suatu tim, dia suka sekali analisis. Jadi sukanya analisis misal melihat tim ini karena pelatihnya ini maka bisa melakukan strategi ini," ujar Alissa.
Namun, karena gangguan penglihatan yang dideritanya sejak tahun 1994, lanjut Alissa, Gus Dur hanya bisa menonton bola dengan mendengar ucapan komentator. Sejak itulah, Alissa yang awalnya penggemar berat sepak bola menjadi enggan menonton sepakbola lagi termasuk Piala Eropa 2012.
"Sejak penglihatan bapak sangat berkurang tahun 1994 sampai benar-benar berat tahun 1997, kalau lagi nonton sepak bola saya selalu kepikiran bagaimana rasanya bapak ya sudah tidak bisa nonton bola lagi," kata Alissa yang sejak remaja sudah diajaro teknis dan analisis sepak bola oleh Gus Dur.
Ia menambahkan, "akhirnya sekarang saya benar-benar tidak bisa nonton bola. Pasti inget bapak."
Sumber: bisnis.com |
Minggu, 15 Desember 2013
Cerita Gus Dur dikejar-kejar polisi di era Orde Baru
Merdeka.com
- Tak akan ada
habisnya jika bercerita soal Gus Dur
. Presiden RI keempat ini punya segudang cerita yang tak habis dibicarakan oleh
para pengagumnya.
Salah satunya ketika Gus Dur dikejar-kejar oleh polisi di Era Orde Baru. Kisah Gus Dur dikejar-kejar polisi itu diceritakan kembali oleh Muhammad AS Hikam dalam bukunya berjudul 'Gus Dur Ku, Gus Dur Anda dan Gus Dur Kita'. Hikam tidak ingat persis kapan hal itu terjadi tetapi kejadian itu terjadi di akhir rezim Orde Baru.
Saat itu Gus Dur diundang untuk menjadi pembicara oleh Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) di Jombang. Saat itu aparat keamanan sudah ditugasi untuk membuat gagal acara atau minimal membuat jalannya ceramah menjadi kurang baik.
"Toh acara tetap berjalan dan ceramah Gus Dur didengar banyak aktivis GMNI dan lainnya. Begitu selesai acara, Gus Dur diminta panitia untuk segera pergi meninggalkan lokasi acara," tulis Hikam dalam bukunya tersebut yang dikutip merdeka.com, Senin (2/12).
Setelah Gus Dur meninggalkan lokasi, polisi pun langsung membubarkan acara diskusi tersebut. Para aktivis pun diminta bubar, namun Gus Dur sudah langsung meluncur ke arah Surabaya.
Namun ketika di dalam Kota Jombang, mobil Gus Dur dibuntuti dua motor gede yang ditunggangi anggota polisi. Meski demikian kedua motor gede itu tidak membunyikan sirinenya.
"Gus Dur dilapori sopirnya dan beliau minta supaya jalan saja kalau perlu ngebut," tulis Hikam di halaman 5 buku tersebut.
Namun ternyata kedua polisi yang membuntuti Gus Dur juga tidak kalah. Mereka berdua memacu kuda besinya untuk mengejar mobil yang ditumpangi Gus Dur .
Setelah berada di luar kota, kedua motor gede itu berhasil menyalip mobil Gus Dur . Motor itu berhenti setelah agak jauh menyalip lalu berhenti di tengah jalan dan menghentikan mobil Gus Dur .
Hal itu sontak membuat sopir Gus Dur mengerem mendadak untuk menghindari kecelakaan. Gus Dur pun marah besar dan membuka kaca mobil sembari menunggu kedua polisi itu mendatangi beliau.
"Ada apa?," tanya Gus Dur dengan nada tinggi.
"Assalamualaikum Kyai," ujar salah seorang polisi tersebut menyapa Gus Dur yang sudah dalam kondisi marah.
"Ya, saya kan sudah pergi. Sana pergi kalian...," ujar Gus Dur mencoba mencegah kedua polisi itu mendekat.
"Begini Kyai..." kata anggota polisi tersebut begitu sampai di kaca jendela. Saat itu sopir dan dua penumpang mobil lainnya sudah sangat khawatir.
"Begini Kyai, mohon maaf saya tadi belum sempat salaman sama njenengan, jadi terpaksa saya mengikuti Kyai. Tolong Kyai, saya ingin salaman," kata anggota polisi tersebut.
Kedua polisi itu pun lalu bersalaman dan mencium tangan Gus Dur . Setelah itu kedua polisi itu langsung tersenyum cengengesan karena berhasil salaman dengan Gus Dur .
"Dan tentu saja Gus Dur langsung ketawa ngakak segitu mobil kembali kembali jalan termasuk As Hikam yang berada di mobil tersebut.
"Ngono kuwi lo, Kang wong NU. Sudah repot-repot disuruh menjaga supaya ceramah tidak sukses, eee... ujung-ujungnya pengen salaman," ujar Gus Dur .
Salah satunya ketika Gus Dur dikejar-kejar oleh polisi di Era Orde Baru. Kisah Gus Dur dikejar-kejar polisi itu diceritakan kembali oleh Muhammad AS Hikam dalam bukunya berjudul 'Gus Dur Ku, Gus Dur Anda dan Gus Dur Kita'. Hikam tidak ingat persis kapan hal itu terjadi tetapi kejadian itu terjadi di akhir rezim Orde Baru.
Saat itu Gus Dur diundang untuk menjadi pembicara oleh Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) di Jombang. Saat itu aparat keamanan sudah ditugasi untuk membuat gagal acara atau minimal membuat jalannya ceramah menjadi kurang baik.
"Toh acara tetap berjalan dan ceramah Gus Dur didengar banyak aktivis GMNI dan lainnya. Begitu selesai acara, Gus Dur diminta panitia untuk segera pergi meninggalkan lokasi acara," tulis Hikam dalam bukunya tersebut yang dikutip merdeka.com, Senin (2/12).
Setelah Gus Dur meninggalkan lokasi, polisi pun langsung membubarkan acara diskusi tersebut. Para aktivis pun diminta bubar, namun Gus Dur sudah langsung meluncur ke arah Surabaya.
Namun ketika di dalam Kota Jombang, mobil Gus Dur dibuntuti dua motor gede yang ditunggangi anggota polisi. Meski demikian kedua motor gede itu tidak membunyikan sirinenya.
"Gus Dur dilapori sopirnya dan beliau minta supaya jalan saja kalau perlu ngebut," tulis Hikam di halaman 5 buku tersebut.
Namun ternyata kedua polisi yang membuntuti Gus Dur juga tidak kalah. Mereka berdua memacu kuda besinya untuk mengejar mobil yang ditumpangi Gus Dur .
Setelah berada di luar kota, kedua motor gede itu berhasil menyalip mobil Gus Dur . Motor itu berhenti setelah agak jauh menyalip lalu berhenti di tengah jalan dan menghentikan mobil Gus Dur .
Hal itu sontak membuat sopir Gus Dur mengerem mendadak untuk menghindari kecelakaan. Gus Dur pun marah besar dan membuka kaca mobil sembari menunggu kedua polisi itu mendatangi beliau.
"Ada apa?," tanya Gus Dur dengan nada tinggi.
"Assalamualaikum Kyai," ujar salah seorang polisi tersebut menyapa Gus Dur yang sudah dalam kondisi marah.
"Ya, saya kan sudah pergi. Sana pergi kalian...," ujar Gus Dur mencoba mencegah kedua polisi itu mendekat.
"Begini Kyai..." kata anggota polisi tersebut begitu sampai di kaca jendela. Saat itu sopir dan dua penumpang mobil lainnya sudah sangat khawatir.
"Begini Kyai, mohon maaf saya tadi belum sempat salaman sama njenengan, jadi terpaksa saya mengikuti Kyai. Tolong Kyai, saya ingin salaman," kata anggota polisi tersebut.
Kedua polisi itu pun lalu bersalaman dan mencium tangan Gus Dur . Setelah itu kedua polisi itu langsung tersenyum cengengesan karena berhasil salaman dengan Gus Dur .
"Dan tentu saja Gus Dur langsung ketawa ngakak segitu mobil kembali kembali jalan termasuk As Hikam yang berada di mobil tersebut.
"Ngono kuwi lo, Kang wong NU. Sudah repot-repot disuruh menjaga supaya ceramah tidak sukses, eee... ujung-ujungnya pengen salaman," ujar Gus Dur .
Reporter : Hery H Winarno
Jumat, 13 Desember 2013
Humor Gus Dur: Semua Presiden RI KKN
Merdeka.com - Anda tentu masih ingat dengan humor Gus Dur yang satu ini. Guyonan ini sempat menghebohkan nusantara karena dimuat oleh salah satu media nasional di Jawa Timur. Gus Dur mengatakan, semua presiden Republik Indonesia (RI) itu KKN, mulai dari Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur (dirinya sendiri), sampai Megawati
Humor ini ditulis ulang oleh Muhammd Zikra dalam buku, tertawa bersama Gus Dur: humornya kiai Indonesia. Kisahnya berawal saat Gus Dur mengisi khutbah dalam acara pernikahan putra seorang kiai di lingkungan Pondok Pesantren Pajarakan, Probolinggo, Jawa Timur, pada Agustus 2002.
Gus Dur waktu itu berpidato di atas kwade (pentas pengantin Jawa) dan disaksikan oleh ratusan tamu undangan. Belum satu menit naik ke atas kwadeGus Dur langsung membuat guyonan politik. Katanya, semua presiden RI itu KKN (tentu yang dimaksud KKN adalah istilah untuk korupsi, kolusi dan nepotisme).
Topik pilihan: Humor Gus Dur | Bung Karno
"Kok bisa?" tanya Gus Dur. "Ya, presiden pertama ( Soekarno ) itu saya katakan Kanan Kiri Nona (KKN). Presiden kedua ( Soeharto ) juga KKN, tapi yang ini Kanan Kiri Nabrak. Yang ketiga (Habibie) malah lebih parah lagi, Kecil-Kecil Nekat. Yang keempat anda sudah tahu semua, Kanan Kiri Nuntun. Yang terakhir, yang satu ini (sambil tertegun beberapa saat) Kayak Kuda Nil." Lalu disambut tawa seluruh hadirin yang hadir.
Tertawa pun semakin berkepanjangan saat Gus Dur merinci, kuda nil itu memiliki ciri-ciri tertentu yakni bertubuh besar, senang berendam, kurang gerak dan jarang ngomong. "Saya kira, presiden yang sekarang ini ( Megawati ) ternyata KKN juga. Tetapi KKN-nya: Kayak Kuda Nil," katanya disambut tertawa dan tepuk tangan.
Humor lain adalah tentang terorisme di Indonesia. Guyonan Gus Dur ini membuat orang terpingkal-pingkal. Saat membuka acara konsolidasi nasional PKB di Hotel Saripan Pasific, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Minggu (29/1/2006), Gus Dur memberikan sambutan, ia memberikan berbagai komentar yang saat ini terjadi di tanah air. Salah satunya ketika membahas soal teroris-teroris di Indonesia.
Menurut Gus Dur , aksi teroris saat ini sudah tidak ada lagi. Kenapa demikian? Karena semua teroris sudah jadi menteri, kata Gus Dur disambut tawa hadirin. Siapa teroris yang jadi menteri itu, mereka adalah yang dulu pekerjaannya menakuti rakyat Indonesia
Langganan:
Komentar (Atom)

